Saatnya Memaafkan Diri Sendiri, Fajar/Rian!

Akhir pekan menjadi periode tepat untuk melakukan kontemplasi. Sebuah perenungan. Hari bebas dari rutinitas pekerjaan akan membuat kita mendapatkan waktu berkualitas untuk melakukan perenungan perihal apa saja yang telah kita lakukan selama sepekan kemarin.

Bila ada yang sudah benar, sesuai target dan sukses, kita tinggal menumbuhkan motivasi untuk semakin memperbesar peluang sukses. Bila ada yang keliru, salah dan belum sesuai target, kita perlu memaafkan diri sendiri untuk tidak terpuruk dengan kesalahan yang sudah berlalu.

Bukankah kita memang manusia yang tidak lepas dari kemungkinan berbuat salah. Terpenting adalah mau memaafkan kesalahan diri sendiri untuk kemudian jalan terus. Istilahnya anak sekarang, “move on”.

Perihal pentingnya “move on” ini, saya menemukan salah satu kutipan berenergi yang ditulis Steve Maraboli di dalam dbukunya “Life, the Truth, and Being Free“. Maraboli menulis begini “It is important that we forgive ourselves for making mistakes. We need to learn from our errors and move on“.

Bila diterjemahkan dalam bahasa kita, terjemahannya kurang lebih begini:”memaafkan diri sendiri karena berbuat kesalahan itu penting. Kita perlu belajar dari kesalahan-kesalahan kita dan jalan terus”.

Saya tertarik dengan kutipan dari Steve Maraboli tersebut setelah mengetahui  kabar terbaru dari perjuangan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto serta ganda campuran Rinov Rivaldy dan Pitha Mentari di turnamen BWF Swiss Open 2019. Dini hari tadi, keduanya berhasil lolos ke babak final. Ini final pertama mereka di tahun 2019 ini.

Lalu, apa kaitan kutipan Steve Maraboli dan keberhasilan Fajar/Rian serta Pitha/Mentari lolos ke final?

Sampean pasti ingat kejadian menyesakkan pada Sabtu pekan lalu. Ketika Fajar/Rian tampil bagus di All England Open 2019. Keduanya bersemangat, berteriak dan merayakan kegembiraan bermain di turnamen bulutangkis tertua di dunia itu. Namun, semuanya itu mendadak lenyap ketika mereka gagal ke final setelah dikalahkan ganda Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik di semifinal.

Kekalahan menyesakkan. Sebab, Fajar/Rian sebenarnya dominan di game pertama 21-12. Namun, di game kedua, mereka membuang peluang menang straight game. Mereka kalah di adu setting point, 20-22. Dan di game penentuan, Fajar/Rian kembali kalah tipis, 19-21. Ironisnya, poin untuk lawan di angka kritis, justru ‘diberikan gratis’ karena service yang nyangkut di net.

Merujuk pada beberapa foto di media sosial yang menampilkan wajah Fajar/Rian seusai laga semifinal tersebut, mudah menyimpulkan bahwa keduanya sangat terpukul. Kecewa, menyesali kekalahan bahkan mata mereka seolah berembun. Tentunya bukan ekspresi bahagia.

Namun, mereka harus paham bahwa kekalahan dan kesalahan menyesakkan seperti itu bisa dialami siapa saja. Seperti kata  Maraboli, terpenting adalah kerelaan untuk memaafkan diri sendiri lantas belajar dari kesalahan yang telah dilakukan.

Nah, sepekan setelah All England, Fajar/Rian mendapatkan kesempatan untuk move on dari “trauma semifinal”. Tadi malam pukul 22.00 waktu Swiss atau pukul 04.00 waktu Indonesia, keduanya tampil di semifinal Swiss Open. Hasilnya, mereka berhasil melewati bayangan pahit kalah di semifinal.  

Fajar/Rian yang menjadi unggulan 4, berhasil lolos ke final setelah mengalahkan ganda putra Inggris unggulan 6, Marcus Ellis/Chris Langridge dua game langsung, 21-16, 21-19. Fajar/Rian tengah on fire. Sejak putaran pertama hingga semifinal, mereka selalu menang dua game langsung alias belum pernah kehilangan (kalah) satu game pun.

Di final yang digelar Minggu (17/3) malam nanti, Fajar/Rian akan menghadapi ganda Taiwan yang menjadi unggulan 8, Lee Yang/Wang Chi-lin. Ganda Taiwan yang mengalahkan ganda senior Indoneisa, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan di perempat final ini lolos ke final setelah menaklukkan ganda Korea, Kim Gi-jung/Lee Yong-dae lewat rubber game 22-20, 13-21, 22-20.

Setelah melewati semifinal, Fajar/Rian tentunya tidak mau berhenti. Tanggung bila sudah di final tetapi tidak juara. Dan andai gelar Swiss Open 2019 bisa diraih, semoga itu benar-benar menjadi pelipur lara dari kenangan pahit di All England 2019. Tidak boleh lagi ada perpanjangan penyesalan. Cukuplah kesalahan itu dijadikan pengingat untuk jadi lebih baik. 

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started